Rahmatullah Ading Affandie

Obituarium: RAF, Budayawan Multitalenta
— Taufik Faturohman*

KALAU kita baca, karya-karya Rahmatullah Ading Affandie (RAF) (cerita pendek, novel, drama, gending karesmen, atau rumpaka lagu) sarat dengan nuansa religi. Mungkin orang akan menyangka bahwa RAF setidak-tidaknya pernah mengecap dunia pesantren.

Orang-orang yang dekat dengan RAF akan tahu bahwa sebenarnya RAF belum pernah merasakan ngobong di pesantren. Ilmu-ilmu agama yang didapat RAF adalah hasil belajar mengaji di Ajengan Jajaway Tasikmalaya dan saat dia sekolah di Pesantren Islam Miftahul Huda Ciamis. Walaupun belum pernah masantren, tetapi ketika RAF menggambarkan keadaan sehari-hari pesantren seperti yang terbaca dalam bukunya 40 Dongeng Enteng ti Pasantren, seolah-olah ia pernah hidup lama di pesantren. Penggambaran RAF tentang keadaan pesantren, kalau diistilahkan dalam bahasa Sunda, pohara jigana!

RAF lahir di Banjarsari, 2 Oktober 1928. Beliau adalah putra pasangan Udintapura dan Kulsum Ratnapermana. Tentang hari kelahirannya, RAF sendiri masih menyangsikan. Begitu pulang tentang tahun kelahirannya. Dalam KTP dan surat-surat resmi tertulis, RAF lahir 2 Oktober 1929. Ibunya pernah mengatakan bahwa RAF lahir Minggu. Ketika ia membuka buku pintar Kalender 100 Tahun, ternyata 2 Oktober 1928 dan 2 Oktober 1929 jatuhnya bukan Minggu. Ketika ia komplain, ibunya berkata, “Sok ngaborongkeun ka nu ngalahirkeunana. Sidik poe Minggu. Apan harita teh bapa maneh keur teu ngantor.”

Tahun 1932 orang tua RAF bercerai. RAF kecil lalu diasuh kakeknya Eyang R. Hasan Nurwawi, yang saat itu bekerja di Departemen Agama Kabupaten Ciamis, ditugaskan menjadi khatib di Kecamatan Bojong. Karena R. Hasan Nurmawi berlangganan beberapa majalah, di antaranya majalah Al Imtisal, Al Mawaiz, Parahiangan, dan koran Sipatahunan, RAF kecil sudah mulai diperkenalkan pada karya-karya sastra sunda dan sastra islami. Walaupun saat itu RAF belum bisa membaca, tetapi sering dibacakan oleh eyangnya karya-karya pengarang Sunda ternama seperti M.A. Salmun, Sacadibrata, Kadir Tisna Sujana, Syarif Amin, dan pengarang-pengarang lainnya.

Ketika menginjak usia lima tahun, RAF berpindah pengasuhan. Dia kemudian diasuh Karyasasmita, famili ibunya yang bekerja menjadi mantri guru di Sukaraja Sukabumi. Oleh Karyasasmita RAF disekolahkan ke Sekolah Desa 3 tahun. Dua tahun kemudian RAF diasuh famili ibunya yang lain yaitu Emo Suwitaatmaja yang bekerja menjadi guru di Tasikmalaya.

Kemudian RAF meneruskan sekolah di HIS Pasundan Tasikmalaya. Saat sekolah di HIS Pasundan itu, RAF mulai bisa membaca sendiri karya-karya sastra Sunda karangan para pengarang ternama, karena di perpustakaan HIS Pasundan terdapat lebih dari 100 judul buku-buku semacam itu.

Selain gemar membaca, RAF juga gemar bermain sepak bola. Karena termasuk pemain yang lihai mengolah si kulit bundar, RAF sering dipinjam sekolah lain untuk memperkuat tim sepak bola sekolah tersebut. Ketika mengetahui RAF akan memperkuat tim sekolah tersebut, sekolah yang akan menjadi musuhnya banyak yang menolak bermain. Katanya, “Teu kaci mawa Si Ading, bisaan teuing!”

Karena kepintarannya bermain bola, oleh masyarakat Tasik saat itu RAF dijuluki “Oyon van Gang Loji”. Oyon adalah salah seorang pemain PSTS (cikal bakal Persitas) yang sangat terkenal. Sedangkan Gang Loji adalah alamat rumah Emo Suwitaatmaja, bapak asuh RAF.

Gara-gara main bola pula, RAF sempat berkelahi dengan murid HIS lain. Saat itu, RAF sudah punya bola sendiri uangnya didapat dari hasil menyambi berjualan sale pisang. Ketika sedang bermain bola dengan teman-temannya, bola yang ditendang RAF masuk ke halaman sekolah lain. Waktu RAF mau mengambil bola, tiba-tiba ada tiga orang anak seusia dengan dia menyerangnya. Untung saja RAF mahir bermain pencak, sehingga pengeroyok tersebut bisa dikalahkan. Malah seorang di antaranya sampai babak belur. Tapi setelah itu, RAF kaget karena yang dihajar sampai babak belur tersebut adalah adik seorang preman Tasikmalaya saat itu.

Sebelum ada lapang Dadaha, RAF dan kawan-kawannya suka bermain bola di lapang depan pendopo kabupaten. Celakanya, kalau bola masuk ke halaman kabupaten selalu tidak bisa kembali, karena dirampas upas yang menjaga keamanan sekitar pendopo kabupaten. Suatu hari, bola yang ditendang RAF masuk ke halaman pendopo. Ketika RAF mengambil bola tersebut, upas membiarkan begitu saja. Mengapa demikian, karena saat itu sedang… hujan deras!

RAF sendiri saat itu tidak menyangka bahwa kelak di kemudian hari, saat ia melaksanakan akad nikah, tempatnya berlangsung di pendopo tersebut. Pada 1 Januari 1956, RAFmengakhiri masa lajangnya dengan menyunting Ine Martini, putri Bupati Tasikmalaya saat itu Priatnakusumah.

Pada 1937-1941 selain Oyon, ada lagi pemain PSTS yang sangat terkenal, namanya Adang yang dijuluki “Si Oray”. Mengapa dijuluki “Si Oray”, karena pergerakan Adang dalam mengolah bola layaknya ular, melingkar-lingkar. Ada kebiasaan Adang saat itu, kalau bermain bola tangan kirinya selalu dibalut handuk. Karena RAF sangat mengidolakan Adang, ia pun meniru-niru gaya Adang. Bedanya, kalau tangan Adang dibalut handuk, tangan RAF, karena tidak punya handuk, dibalut dengan sarung bantal bayi!

Setelah tamat dari HIS Pasundan Tasik, RAF meneruskan sekolah ke No Gakko (sekolah pertanian) di Ungaran, Semarang. Setahun di No Gakko Ungaran, tahun berikutnya RAF pindah ke No Gakko Pati. Tahun berikutnya pindah lagi ke No Gakko Tasik. Saat itu 1945, ketika RAF menyelesaikan sekolah di No Gakko Tasik, Indonesia baru terbebas dari penjajahan Jepang. Menjelang kemerdekaan, RAF sempat bergabung dengan Tentara Pelajar.

Tahun 1948 RAF pindah ke Bandung, karena diterima bekerja menjadi juru tik di Departemen Sosial. Tapi sayang, tidak lama kemudian RAF diberhentikan oleh pimpinannya, yang saat itu masih dijabat orang Belanda. Yang menjadi penyebabnya karena RAF dituduh berbohong. Saat diwawancara, RAF tidak menyebutkan bahwa dia sempat menjadi Tentara Pelajar. Bagi orang Belanda, Tentara Pelajar masih menakutkan, karena dianggap suka memberontak.

Setelah berhenti dari Departemen Sosial, kemudian RAF bekerja di perusahaan bangunan. Kemudian pindah lagi menjadi pencari iklan koran Harian Indonesia. Karena masih banyak waktu, RAF kemudian mendaftar ke SMP Pasundan dan diterima di kelas IV (saat itu lama pendidikan di SMP 4 tahun). Tamat dari SMP, RAF meneruskan sekolahnya ke SMA A Pasundan bagian budaya. Selama tiga tahun sekolah di SMA, RAF banyak menerima ilmu dari Dayat Harjakusumah (ayahanda Bimbo). Saat itu, selain menjadi guru sejarah kebudayaan di SMA Pasundan, Dayat juga menjadi wartawan Antara. Oleh Dayat pula kelak di kemudian hari setelah lulus SMA, RAF diperkenalkan pada Rosihan Anwar di Jakarta, yang memungkinkan RAF bisa bekerja di koran Pedoman, sambil kuliah di Fakultas Hukum UI sampai menggondol ijazah sarjana muda. Sewaktu bekerja di Pedoman, RAF mulai rajin mengirimkan karangannya ke Pikiran Rakyat, Sipatahunan, Mingguan Nasional, dan majalah Olahraga. Selain itu, dia sempat pula mengisi siaran olah raga di RRI Jakarta.

Semasa sekolah di SMP dan SMA Pasundan, RAF sempat didaulat menjadi Ketua Murid Umum (semacam OSIS) SPI (Serikat Pelajar Indonesia). Salah satu garapan SPI adalah olah raga, di antaranya sepak bola. Saat itu, SPI sudah tercatat sebagai anggota Persib dan dijuluki klub “Murangkalih”, karena semua pemainnya adalah pelajar SMP dan SMA.

Beberapa tahun kemudian SPI diubah namanya menjadi IPI (Ikatan Pelajar Indonesia), yang sampai saat ini masih menjadi anggota Divisi Utama Persib. Dalam kiprahnya di bidang sepak bola, SPI/IPI telah banyak menyumbangkan pemain-pemainnya untuk memperkuat Persib, di antaranya Witarsa, Rukman, Rukma, Parhim, Unang, Ade Dana, Juju, Ahyar, Wiwin Darmawan, Yoce Oroh, Indra Tohir, Nandang, Atik, Sulaeman, Komar, Sobari, Gengen, Ade Abdilah, Usep Munandar, Deden Hermawan, dan Jarot, termasuk beberapa pemain yang sekarang ada di Persib U-23 dan Diklat Persib. Beberapa hari sebelum masuk rumah sakit, RAF sempat menelefon penulis dan berkata, “Akang teh hayang keneh nyaksian, IPI juara deui!”

Kini, RAF telah kembali ke haribaan-Nya. Dia telah dipanggil Yang Mahakuasa Rabu, 6 Februari 2008 pukul 18.51 WIB. Kini, jasadnya telah berbaring tenang di pemakaman Cilanggeng Rancaekek. Karya-karyanya merupakan barang yang tidak ternilai harganya bagi kehidupan budaya di Jawa Barat. Baik yang berupa buku seperti Pipisahan, Nu Kaul Lagu Kaleon (dianugerahi hadian Rancage 1991), Bentang Lapang, Urang Banjarsari Jadi Inohong di Bojongrangkong, Akina Puri ka Tanah Suci, dan satu lagi yang masih berupa naskah, tentang sejarah dan perkembangan Persib. Atau karya-karya RAF lainnya berupa naskah drama seperti “Pangeran Jayakarta”, “Ruhak Pajajaran”, “Inohong di Bojongrangkong”, “1 Syawal di Alam Kubur” dan “Yaomal Kiamah”. Begitu pula puluhan rumpaka RAF yang dianggit menjadi lagu oleh Mang Koko seperti “Handam”, “Bulan Dagoan”, “Pangungsi Balik”,”Peuting jeung Pangharepan”, “Al Imam”, Solawat Bani Hasyim” “Leungiteun”, dan “Neangan”, akan abadi selamanya.

Karena karya dan jasa-jasanya, saya sangat setuju dengan pendapat Ketua DPRD Jawa Barat, H.A.M. Ruslan yang akan mengusulkan kepada pemerintah, agar RAF yang pernah menjadi anggota DPRD Jawa Barat selama 15 tahun itu, mendapatkan penghargaan khusus sebagai budayawan dan seniman yang multitalenta.

Wilujeng angkat Kang, mugia waluya di kalanggengan!***

* Taufik Faturohman, Budayawan Sunda
Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 9 Februari 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: