Ramadhan KH

Perginya Pengarang ”Priangan Si Jelita”
Oleh AJIP ROSIDI

BERITA menyedihkan, walau tak lagi mengejutkan, datang dari Cape Town, Afrika Selatan. Ramadhan Kartahadimadja, atau lebih dikenal sebagai Ramadhan K.H. (teman dekatnya memanggilnya Atun), meninggal tanggal 16 Maret pukul 08.30 waktu setempat. Almarhum dilahirkan di Bandung, 16 Maret 1927, jadi ketika meninggal tepat berusia 79 tahun.

Sejak tahun 2004, istrinya ditempatkan sebagai Konsul Jenderal Republik Indonesia di Cape Town, karena itu dia ikut ke sana. Sejak berangkat ke Cape Town, dia beberapa kali pulang ke tanah air, paling akhir bulan Oktober 2005. Dia sejak lama menderita pembengkakan prostat dan waktu diperiksa hendak dioperasi, ternyata positif kanker. Walaupun dilakukan operasi yang membuang semua bagian yang mungkin menyebarkan sel-sel kanker itu, namun ternyata tidak berhasil. Keadaannya kian memburuk, sehingga kira-kira bulan Januari beredar kabar dari dokternya, dia hanya akan bertahan paling lama tiga bulan.
Saya berkenalan dengan Ramadhan pada tahun 1954 ketika dia
baru pulang dari Spanyol. Ketika itu dia menjadi Pemimpin Umum majalah bulanan Kompas yang redaksinya dipimpin oleh Nugroho Notosusanto. Ketika majalah Kompas berhenti terbit, dia menjadi redaktur budaya warta sepekan Siasat.

Pada tahun 1952, Ramadhan mendapat undangan dari Sticusa (Yayasan Kerjasama Kebudayaan) untuk berkunjung ke Belanda bersamaan waktunya dengan Asrul Sani. Untuk beberapa lama dia bekerja sebagai penerjemah di Kantor Pusat Sticusa, dan sebagai hasilnya dia bisa tinggal beberapa lama di El Salir, Spanyol, untuk memperdalam bahasa Spanyol karena dia jatuh hati kepada sastra Spanyol, terutama kepada karya-karya Frederico Garcia Lorca, yang kemudian dia terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Ramadhan seorang yang selalu berusaha agar berbaikan dengan setiap orang. Dia selalu menghindari konflik. Sifatnya yang utama ialah selalu mendorong orang untuk berprestasi. Kalau dilihatnya ada orang yang punya kualitas, dia niscaya akan mengusahakannya agar orang itu bisa mengembangkan potensinya. Ramadhan juga sangat sadar akan dirinya sebagai putra Sunda, dan ingin agar orang Sunda memperlihatkan prestasinya di tingkat nasional maupun internasional. Dia menghendaki agar kebudayaan Sunda, tarmasuk bahasa dan sastra Sunda, tetap hidup dan berkembang. Pada tahun 1961, bersama almarhum Tatang Suryaatmadja dan Obon Harris, kami mendirikan penerbit Kiwari yang menerbitkan karya sastra dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Meski buku yang diterbitkannya tidak banyak, Kiwari-lah yang memelopori kebangkitan penerbitan buku bahasa Sunda pada masa sesudah perang. Kumpulan sajak pertama dalam bahasa Sunda yang diterbitkan Kiwari adalah Lalaki di Tegal Pati karya Sayudi. Ramadhan sangat bangga terhadap buku tersebut. Sayang, pada tahun 1967 Orde Baru mencabut subsidi kertas. Penerbitan buku yang selama bertahun-tahun marak, terhenti dan baru dimulai lagi belasan tahun kemudian.

Bersama dengan Utuy T. Sontani, Boejoeng Salih Poeradisastra, dan Rukasah S.W., kami menghadiri Kongres Basa Sunda yang diselenggarakan oleh LBSS pada bulan Juli tahun 1956 di Bandung. November tahun yang sama, kami menghadiri Kongres Pemuda Sunda. Ramadhan diangkat menjadi anggota Dewan Komando Pemuda Sunda (DKPS) untuk urusan kebudayaan.

Ramadhan juga menjadi salah seorang direktur PT Duta Rakjat yang menerbitkan Mingguan (kemudian Madjalah) “Sunda” yang redaksinya saya pimpin. Ketika itu dia menjadi wartawan LKBN Antara cabang Bandung yang dipimpin oleh Dajat Hardjakusumah. Pada waktu terjadi Gestapu, dia difitnah orang bersama Dajat, sehingga sempat ditahan. Karena tidak ada bukti, setelah 3 minggu dia dibebaskan dan tugasnya dipindahkan ke LKBN Antara Pusat di Jakarta.

Pada tahun 1968, Ramadhan dan saya diajak oleh Ilen Suryanegara menemui Gubernur Jakarta Ali Sadikin untuk menjajagi kemungkinan penerbitan majalah kebudayaan yang dirasakan sangat diperlukan di Indonesia. Gubernur Ali Sadikin sangat antusias dan bersedia menyediakan dana untuk mencetak majalah bulanan Budaja Djaja (kemudian Budaya Jaya) yang dipimpin oleh Ilen Suryanegara. Ramadhan bersama saya dan Harjadi S. Hartowardojo menjadi redakturnya. Dari pertemuan-pertemuan dengan Gubernur Ali Sadikin itu, timbul pula gagasan untuk menyediakan tempat bertemu para seniman Jakarta. Ali Sadikin ternyata tak sekadar menyediakan tempat, tetapi sebuah pusat kebudayaan (cultural centre) yang pengurusannya dipercayakan kepada para seniman sendiri, yaitu Taman Ismail Marzuki yang merupakan salah satu projek yang harus ditangani DKJ. Projek yang lain ialah LPKJ (sekarang IKJ). Kalau TIM menjadi tempat para seniman mempertunjukkan karya-nya, IKJ adalah semacam tempat untuk pemupukan anak-anak muda yang berbakat seni.

Meskipun Ramadhan tidak termasuk sebagai anggota DKJ angkatan yang pertama (1968-1970), pada 1971 dia terpilih menjadi anggota DKJ. Sejak itu dia boleh dikatakan tidak pernah lepas dari lembaga-lembaga yang ada di lingkungan Pusat Kesenian Jakarta (PKJ), kecuali kalau sedang mengikuti istrinya tinggal di luar negeri. Dia dua kali diangkat sebagai anggota DKJ (1971-1974) dan menjadi sekretaris DPH, kemudian diangkat menjadi Direktur Pelaksana DKJ (1976-1981). Ketika Akademi Jakarta (AJ) yang dibentuk DKJ tahun 1970 banyak mendapat kritik karena para anggotanya yang diangkat untuk seumur hidup itu mulai berguguran sementara yang tinggal pun tidak mampu menghadap terjangan Sang Kala. Ramadhan bersama Iravati berusaha agar lembaga tersebut jangan sampai bubar. Keduanya (anggota DKJ yang paling lama dan berkali-kali diangkat menjadi Ketua DPH DKJ) berhasil meyakinkan Sutiyoso untuk menyelamatkan AJ dan menyediakan dana yang cukup agar mereka dapat mengadakan kegiatan di PKJ. Ramadhan sendiri duduk sebagai wakil ketua bersama Goenawan Mohamad (Ketuanya Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri). Ketika sakitnya kian parah, Ramadhan mengirimkan email pengunduran dirinya dan digantikan oleh H. Misbach J. Biran.

Sebagai sastrawan, Ramadhan terkenal karena kumpulan sajaknya Priangan Si Jelita (1956) yang sudah dicetak ulang berkali-kali dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Spanyol, Jerman, Prancis, dan Jepang. Karyanya yang lain berupa roman, yaitu Royan Revolusi (1970), Kemelut Hidup (1976), Keluarga Permana (1978), dan Ladang Perminus (1981). Karena Priangan Si Jelita, Ramadhan mendapat Hadiah Sastra Nasional 1957-1958 dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN). Sedangkan naskah Royan Revolusi mendapat hadiah pertama dalam sayembara penulisan roman yang diselenggarakan oleh Ikapi-Unesco tahun 1968. Tahun 1992 Ramadhan mendapat SEA Award dari Bangkok.

Tetapi di luar bidang kesusastraan, Ramadhan K.H. dikenal sebagai penulis biografi tokoh nasional Indonesia, seperti Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno (1981), Suharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1988), dan Bang Ali: Demi Jakarta (1992).

Innalillaahi wainna ilaihi rojiu’un. Ya Allah, mudah-mudahan Kau-ampuni segala kekeliruan dan dosa-dosa sahabat kami Ramadhan K.H. Semoga Kau-terima segala amal perbuatannya sebagai amal yang saleh di sisi-Mu. Dan berilah tempat yang mulia baginya di hadiratMu, Ya Allah. Berilah kekuatan kepada kaum kerabatnya agar tabah menerima cobaan yang berat ini. Hari ini, Sabtu (18/3), jenazah akan tiba di Jakarta, dan akan dimakamkan di Tanah Kusir. Wilujeng angkat, Atun!***

Ajip Rosidi, Ketua Dewan Pembina Yayasan Pusat Studi Sunda.

Sumber: Pikiran Rakyat, Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: