Sri Sultan Hamengku Buwono X: Pemimpin yang Dekat dengan Rakyat

by Sofian Effendi
koran SINDO, 27 December 2007

Tahun ini, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X terpilih sebagai People of The Year 2007 bidang politik setelah menyisihkan calon-calon lain melalui proses penilaian yang cukup ketat.

Melalui dua tahap penyaringan tersebut, Sri Sultan unggul karena tiga alasan. Pertama, beliau dipandang sebagai tokoh yang dekat dengan rakyat,tidak saja dengan kawula Ngayogya yang tinggal di Yogyakarta maupun di luar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tetapi dengan hampir semua etnis berbahasa Jawa.

Kedua, beliau dipandang tokoh yang berani dan tidak mementingkan kedudukan karena telah menyatakan tidak berkenan dicalonkan lagi sebagai Gubernur Provinsi DIY.

Ketiga, Sri Sultan dianggap sebagai salah seorang penggerak reformasi untuk mendorong transisi Indonesia menuju masyarakat demokratis. Onghokham dalam artikel berjudul ”Renungan Sejarah atas Penobatan Hamengku Buwono X”telah membuat prediksi kemungkinan Sri Sultan berkiprah di tingkat nasional, mengikuti jejak ayahanda beliau. Ong menyimpulkan, ”…karena peranan beliau yang besar, dalam ikut mengatasi krisis PRRI/Permesta dan krisis lainnya, Sri Sultan HB IX telah diterima sebagai tokoh nasional dan akhirnya terpilih sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.

Putra beliau Sultan HB X juga aktif dalam arena politik daerah dan suatu saat dapat terpilih sebagai Gubernur DIY seperti ayahanda beliau. Bila terjadi krisis politik di negara ini di kemudian hari, Sultan HB X mungkin akan diperlukan sebagai tokoh pemersatu dan stabilisator bangsanya….

” Memperhatikan krisis ekonomi, politik, dan sosial yang berkembang selama pemerintahan reformasi di Tanah Air belum menunjukkan tanda-tanda akan menyusut dan melihat belum ada tindakan pemerintah yang mampu mengatasi multikrisis tersebut, banyak orang sekarang menanti dengan harap-harap cemas kebenaran prediksi Onghokham.

Dukungan empiris terhadap ”keampuhan” prediksi tersebut mulai bermunculan, antara lain lewat survei Indo Barometer pimpinan Mohammad Qodari. Survei mengungkapkan pasangan Susilo Bambang Yudoyono dan Sultan HB X berpeluang besar memenangi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 dibandingkan dengan pasangan lain karena dipilih oleh 42,2% responden.

Pilpres tinggal sekitar 18–20 bulan lagi dan apakah dalam waktu satu setengah tahun prediksi Onghokham akan terjadi? Wallahualam, dan tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Di antara sekian banyak tokoh penggerak reformasi yang saya hormati, Sri Sultan HB X adalah yang paling saya hormati. Saya pun semakin mengenal perjalanan hidupnya,baik melalui karya tulis, pidato-pidato, sepak terjang di pentas daerah dan nasional maupun dalam berbagai pembicaraan tete a tete yang kadang-kadang berlangsung sampai tengah malam; dan tertanam kesan yang mendalam di lubuk hati saya terhadap tokoh yang dikagumi masyarakat Yogyakarta ini.

Tulisan singkat ini merupakan kesan saya terhadap Sri Sultan HB X sebagai pemimpin, pemikir, dan nasionalis yang belum larut dalam dekadensi peradaban yang sedang melanda bangsa Indonesia saat ini karena beliau selalu tersentuh melihat dan merasakan kemiskinan, kemelaratan, dan kepapaan yang diderita oleh sebagian rakyatnya. Tokoh idola masyarakat Yogyakarta ini adalah seorang tokoh pemimpin bersahaja, selalu akrab,tetap dekat dengan rakyatnya,yang berbicara selalu dengan tutur kata yang sopan menunjukkan ketinggian budi.

Pernah ketika saya baru berkenalan agak dekat dengan beliau saya bertanya bagaimana sebaiknya saya meng-address beliau dalam pertemuan informal.Tak saya duga beliau menjawab ringan-ringan saja, ”Yah terserah Pak Sofian enaknya mau panggil apa? Mau dipanggil Pak Sultan ya boleh, Ngarsa Dalem juga boleh, panggil Kanjeng Sultan ya boleh, mau gunakan Mas Sultan juga boleh.” Jawaban itu menunjukkan betapa bersahajanya kepribadian tokoh kita ini. Tapi karena saya orang Bangka yang sudah 40 tahun lebih tinggal di Yogya, lebih sering saya memanggil Ngarsa Dalem daripada Pak Sultan dan tidak pernah berani saya memanggil beliau Mas Sultan meski saya kebetulan le-bih tua setahun.

Dalam pemikiran masyarakat Jawa, khususnya masyarakat Yogyakarta, seorang sultan menduduki tempat yang sangat khusus dan tinggi. Sultan bukan sekadar sosok penguasa yang memiliki otoritas sekuler yang luas, tetapi sekaligus kekuatan spiritual dan kekuatan sosial. Sebagai emanasi dari kekuatan sekuler, kekuatan spiritual dan kekuatan sosial, sultan adalah kekuatan transendental yang berfungsi sebagai sokoguru masyarakat yang tugas utamanya menjaga keutamaan nilai-nilai keutamaan Jawa.

Dalam totalitas sebagai kekuasaan transendental itu, tidak boleh ada jarak antara raja dan wong cilik. Sultan adalah pembentuk gugus komunitas Jawa yang terdiri atas rakyat, kaum aristokrat, dan pimpinan masyarakat. Untuk menjaga kelestarian gugus tersebut perlu dipelihara kerja sama harmonis dan saling ketergantungan antara ketiga unsur di bawah kepemimpinan sultan.

Tugas sultan adalah menyebarkan kekuatan transendental yang dipercayakan secara kolektif masyarakat agar kosmos atau buwono Ngayogyakarta selalu terjaga.Mungkin pemikiran itulah yang melatarbelakangi penetapan ideologi emansipasi sebagai basis legitimasi kekuasaan keraton yang lebih dikenal sebagai doktrin mendiang HB IX yang terkenal, yaitu ”tahta untuk rakyat”.

Doktrin tahta untuk rakyat merupakan pembaruan perspektif kekuasaan yang sangat fundamental yang dilaksanakan bukan saja dalam tataran retorika politik, tetapi juga diterapkan sebagai moralitas penyelenggaraan kekuasaan. Menjadi sultan adalah menyediakan diri sebagai pengabdi rakyat dengan menyediakan sarana akomodatif bagi penyaluran suara arus bawah.

Dalam perspektif kekuasaan seperti itu, rakyat atau wong cilik tidak dilihat sebagai objek kekuasaan, tetapi rakyat adalah bagian-bagian dari mozaik kekuasaan yang harus ditata dan direkatkan dengan kekuasaan transendental yang dipunyai seorang sultan. Sebagai penerus tahta, Sultan HB X juga menerapkan doktrin yang sama walaupun harus disesuaikan dengan dinamika yang terjadi pada kosmos Yogyakarta.

Pandangan tersebut diucapkan pada pidato Upacara Jumenengan, 7 Maret 1989: ”Buat apa sebuah tahta dan menjadi sultan apabila tidak memberi manfaat bagi masyarakat?” Doktrin tersebut selalu menjadi landasan dari seluruh tindakan dan gerak-gerik beliau baik dalam melaksanakan tugas sebagai pemegang kekuasaan Keraton Yogyakarta selama 10 tahun maupun sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan sebagi Gubernur DIY.

Pisowanan Agung

Sultan HB X telah berhasil menjaga ketertiban dan keamanan gerakan reformasi. Bulan-bulan menjelang runtuhnya Orde Baru,Yogyakarta diramaikan oleh berbagai apel dan gerakan protes mahasiswa dan masyarakat hampir setiap pekan. Baku hantam kadangkadang terjadi antara mahasiswa dan petugas seperti dalam peristiwa pengejaran dan pemukulan di Boulevard UGM pada 4 April 1996 dan tawuran antara petugas keamanan dengan mahasiswa dan rakyat di Demangan pada 12 Mei 1998 yang menimbulkan korban meninggal Moses Gatotkaca.

Sejak itu hampir setiap hari pelajar, mahasiswa,pemulung, tukang becak, dan wong cilik Yogya bergerak menyampaikan aspirasinya di jalan-jalan.Sri Sultan memberi dukungan kepada gerakan-gerakan tersebut walaupun tidak secara terbuka. Dukungan Sultan pada gerakan protes pelajar, mahasiswa, dan rakyat Yogyakarta dapat kita tangkap melalui kata-kata yang beliau ungkapkan setelah menjenguk para korban yang dirawat di RS Panti Rapih pada 14 Mei 1998.

Menjawab pertanyaan wartawan bagaimana kalau Sri Sultan didaulat mahasiswa dan rakyat untuk turun ke jalan, Sri Sultan menjawab, ”Kita lihat saja,beberapa hari ini saya akan ikut turun ke jalan bersama rakyat dan mahasiswa. Kalau dalam aksi damai ada mahasiswa yang digebuk, ditendang atau ditembak seperti korban yang kita tengok tadi,saya akan ikut mahasiswa dan rakyat turun ke jalan.… yang jelas pada 20 Mei 1998 nanti saya akan mempunyai sikap tersendiri tentang keberpihakan saya….

” Kata-kata tersebut diucapkan beliau kira-kira lima hari sebelum terjadinya peristiwa bersejarah bagi gerakan reformasi dan bagi masyarakat Yogyakarta, yang dikenang dalam sejarah bangsa sebagai Pisowanan Agung. Pada 20 Mei 1998 di Universitas Gadjah Mada (UGM) diselenggarakan acara peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Rektor UGM Ichlasul Amal menyatakan peringatan tersebut adalah hari kebangkitan kesadaran bangsa untuk reformasi total, kebangkitan nasional yang ketiga, yang merupakan saat yang tepat untuk membebaskan diri dari kebohongan, adu domba,dan intrik politik.

Pagi itu Sri Sultan yang datang ke kampus bersama GKR Hemas, GRAy Nurmalitasari, GBPH Joyokusumo beserta istri menegaskan posisi beliau di depan ratusan ribu sivitas akademika UGM bahwa beliau berdiri bersama rakyat Yogya dalam memperjuangkan reformasi.

”Di dalam perjuangan reformasi ini kita memihak rakyat yang telah lama loro topo (menderita) dan topo broto (menahan nafsu) untuk kembali mendapatkan hak-haknya yang telah tercuri.Saya siap memimpin rakyat Yogyakarta untuk memperjuangkan reformasi ini. Seperti dipesankan oleh almarhum orangtua saya, Sri Sultan HB IX, untuk menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah.Jika perjuangan berakar dari hati rakyat, maka reformasi akan berjalan lurus dan diridai Allah SWT serta masuk ke gerbang pintu yang benar pula.”

Bersamaan dengan upacara di UGM di kampus-kampus besar di Yogyakarta berlangsung upacara memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Sementara itu ratusan ribu massa rakyat dari seluruh penjuru kota berduyun-duyun mulai bergerak dengan tertib menuju Alun- Alun Utara Keraton.Setelah peringatan, para mahasiswa bergerak menuju Keraton dan bergabung dengan rakyat. Alun-Alun Utara ditumpah-ruahi massa rakyat, pelajar, dan mahasiswa yang jumlahnya sangat besar dan belum pernah terjadi dalam sejarah Yogyakarta.

Di depan setengah juta massa yang hadir, Sri Sultan membacakan Maklumat 20 Mei 1998 yang menyatakan Sri Sultan HB X dan KGPAA Paku Alam VIII yang berisi empat ajakan berikut: (1) mengajak masyarakat DIY dan seluruh rakyat Indonesia mendukung gerakan reformasi dan memperkuat kepemimpinan nasional yang memihak rakyat; (2) mengajak seluruh anggota ABRI untuk melindungi rakyat dan gerakan reformasi sebagai wujud kemanunggalan ABRI dengan rakyat; (3) mengajak semua lapisan masyarakat Yogyakarta dan seluruh rakyat Indonesia untuk mencegah tindakan anarkistis; dan (4) mengimbau masyarakat Yogyakarta dan seluruh rakyat Indonesia untuk mendoakan keselamatan bangsa.

Pembacaan Maklumat 20 Mei 1998 merupakan klimaks dari acara Pisowanan Agung. Getaran jiwa yang disampaikan dengan artikulasi dan intonasi Sri Sultan sangat berwibawa sehingga memukau seluruh massa yang hadir. Sejak penampilan beliau pada Pisowanan Agung, kedudukan Sri Sultan HB X dalam peta politik bangsa Indonesia sudah mantap. Tak ada lagi yang meragukan apalagi mempertanyakan keberpihakan beliau dalam politik Indonesia. Beliau jelas memihak kepada rakyat yang telah lama loro topodan topo broto.

Membangun Peradaban Baru

Saya kurang ingat kapan persisnya Sri Sultan menyatakan tidak bersedia dicalonkan lagi sebagai Gubernur DIY. Segera setelah pernyataan Sri Sultan tersebut,muncul di koran-koran bahwa rakyat Yogya gempar dan gelisah karena khawatir sekali kepergian Sri Sultan akan mengganggu kinerja maupun keberlanjutan pemerintahan Provinsi DIY. Kegelisahan rakyat tersebut dapat dipahami karena di mata rakyat Yogyakarta, hanya kekuasaan transendental Sri Sultan yang dapat menjaga jagat kosmos Yogyakarta dan menjamin hubungan harmonis antara pemimpin dan rakyat.

Namun bagi sebagian rakyat Indonesia, pernyataan Sri Sultan tersebut dipandang sebagai keberanian seorang anak manusia untuk menolak jabatan, yang tujuan hidupnya tidak sematamata mengejar kekuasaan.Sri Sultan dipandang sebagai tokoh yang berani. Beberapa waktu setelah pernyataan yang mengguncangkan itu, saya punya kesempatan berbicara tete a tete dengan Sri Sultan dan kesempatan seperti itu saya gunakan untuk menanyakan pandangan atau pernyataan beliau.

Karena itu saya tanya apa yang ada di benak beliau ketika menyampaikan pernyataan tidak bersedia dicalonkan lagi sebagai Gubernur DIY. Dari perbincangan yang cukup panjang malam itu, saya menangkap ada dua alasan di balik pernyataan beliau. Yang pertama, saya menangkap keprihatinan beliau tentang penetapan keistimewaan DIY yang belum selesai.

Pada 5 September 1945 Sri Sultan HB IX dan KGPAA Paku Alam VIII mengeluarkan suatu maklumat yang menetapkan negeri Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai daerah istimewa dari RI. Tapi masih ada hal-hal mendasar dalam pengaturan keistimewaan DIY yang belum dilakukan oleh Pemerintah Indonesia sampai saat ini ––selama pengaturan keistimewaan tersebut belum terselesaikan dengan memuaskan dan sebelum Pemerintah RI menemukan solusi yang memuaskan tentang bentuk keistimewaan DIY.

Yang kedua, beliau memahami krisis berkepanjangan yang dihadapi bangsa selama era reformasi terjadi karena peradaban bangsa telah dicemari oleh korupsi yang semakin menggila di semua lini pemerintahan,penindasan terhadap rakyat, dan karena permusuhan yang semakin mendalam antara kelompok dan golongan masyarakat. Korupsi, penindasan, dan permusuhan ini hanya dapat diatasi bila bangsa ini mampu mengembangkan peradaban baru.

Untuk menciptakan peradaban baru tersebut beliau merasa pengalaman Yogyakarta yang konstruksi kekuasaannya diletakkan atas dasar perspektif tahta untuk rakyat mungkin dapat digunakan. Dengan kata lain, pernyataan tidak bersedia dicalonkan menjadi Gubernur DIY dapat juga ditafsirkan, ”kalau diperlukan dan dipercaya untuk memimpin bangsa ini mencari solusi untuk berbagai krisis yang dihadapi oleh bangsa ini, beliau harus mau menyediakan diri beliau”. Itulah Sri Sultan HB X yang telah memimpin DIY selama hampir 10 tahun.

Di bawah kepemimpinan dan kepeloporan beliau Yogyakarta telah melewati masa-masa awal reformasi dengan damai dan aman, padahal gerakan protes massa seperti itu sangat mudah berubah menjadi ajang kekerasan yang dapat menimbulkan banyak korban seperti yang terjadi di Ibu Kota Jakarta. Jelas terselenggaranya gerakan reformasi secara damai di Yogya tak dapat dipisahkan dari tokoh Sultan yang amat dihormati oleh rakyatnya. Tapi, setelah hampir 10 tahun reformasi berjalan, kini bangsa ini kembali dalam kondisi tercabik-cabik dan terkoyak-koyak oleh kekuatan globalitas, radikalitas, dan rapiditas.

Apakah gaya kepemimpinan Sri Sultan yang menyejukkan semakin diperlukan untuk mengatasi kondisi bangsa yang seperti ini? Entahlah, kita tunggu sekitar 20 bulan lagi. (*)

Prof Sofian Effendi Ph.D MPIA, Guru Besar Fisipol UGM

Satu Balasan ke Sri Sultan Hamengku Buwono X: Pemimpin yang Dekat dengan Rakyat

  1. nun1k04a mengatakan:

    artikel anda :

    http://politik.infogue.com/
    http://politik.infogue.com/sri_sultan_hamengku_buwono_x_pemimpin_yang_dekat_dengan_rakyat

    promosikan artikel anda di http://www.infogue,com dna jadikan artikel anda yang terbaik dan terpopuler menurut pembaca.slam blogger!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: